Museum di China Ini Simpan Keris Pemberian Soekarno


Keris cinderamata yang diberikan oleh Presiden Sukarno kepada Kamerad Liu Shaoqi pada April 1963 (Foto: Subiyantoro)
Keris cinderamata yang diberikan oleh Presiden Sukarno kepada Kamerad Liu Shaoqi pada April 1963 (Foto: Subiyantoro)

Museum of China di Beijing memiliki berbagai koleksi menarik. Salah satunya, keris pemberian presiden pertama Indonesia, Soekarno.

Beijing, salah satu kota dengan kemajuan teknologi informasi dan pembangunan infrastruktur yang cukup pesat di China dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Kota ini mulai berbenah diri secara besar-besaran ketika didaulat menjadi tuan rumah perhelatan Olympic pada tahun 2018.

Sebagai Kota Pemerintahan (Municipality) yang sarat dengan sejarah perkembangan bangsa China, Beijing memiliki puluhan museum baik yang dikelola oleh negara ataupun swasta. Salah satunya adalah National Museum of China (NMC) yang merupakan museum terbesar ke-3 di dunia setelah Louvre (Prancis) dan State Hermitage Museum (Rusia).

Namun demikian museum ini merupakan museum terbesar di dunia yang menempati satu bangunan (single-building) dengan luas sekitar 200.000 meter persegi. Museum yang berdiri sejak tahun 2003 ini telah menggelar berbagai pameran mulai dari sejarah, tradisi, dan perkembangan budaya bangsa China kurun waktu 5.000 tahun terakhir.

Awalnya museum ini merupakan gabungan dari National Museum of Chinese History dan National Museum of Chinese Revolution yang telah ada sejak tahun 1912. MNC memiliki 5 lantai yang dibagi menjadi 2 bagian yaitu ruang pamer tetap dan temporer. Setiap tahunnya museum ini menggelar lebih dari 50 tema pameran temporer berkelas internasional yang menyedot hampir 10 juta pengunjung baik lokal maupun macanegara pada setiap tahunnya.

Museum raksasa yang lokasinya berseberangan dengan Kota Terlarang (Forbidden City) dan Lapangan Tian’anmen ini cukup strategis dan mudah dijangkau. Sistem transportasi umum yang cukup baik di Beijing menjadikan perjalanan untuk menjangkau museum ini menjadi mudah baik dengan bus, taksi, atau subway. Namun diperlukan “perjuangan’ untuk dapat masuk ke dalam museum ini karena harus mengantre cukup panjang dan berdesak-desakan dengan ribuan pengunjung lainnya terlebih di akhir pekan dan hari libur nasional.

Sebelum memasuki NMC pengunjung terlebih dahulu harus melalui security check yang cukup ketat dan detail seperti halnya ketika akan memasuki tempat-tempat umum lainnya di Beijing. Hal ini cukup bagus untuk memastikan tingkat keamanan dan security control jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Untuk masuk ke dalam museum pengunjung tidak dipunggut biaya sepeser pun alias gratis. Sekedar informasi bahwa hampir semua museum di China yang dikelola oleh pemerintah tidak menerapkan retribusi tiket masuk alias gratis.

Deretan tiang-tiang besar dan tinggi menjadikan lanskap luar dari bangunan museum berukuran jumbo ini semakin kokoh, heroik, dan berwibawa. Deretan patung dan lukisan karya seniman-seniman China siap menghadang pengunjung di lantai 1 yang berukuran luas dan cukup representatif. Jendela kaca dengan ukuran dan jumlah yang cukup masif menjadikan museum ini ramah lingkungan dengan penerangan yang cukup baik. Meski pada titik dan jam-jam tertentu pencahayaan pada suatu karya seni menjadi sangat silau dan kurang bagus untuk dipotret karena backlight

Hampir semua karya seni yang ditampilkan di lantai utama ini menggambarkan perjuangan dan kegigihan masyarakat China dalam memperjuangkan kedaulatan bangsanya. Patung dan lukisan karakter manusia bertubuh tegap dengan pose-pose yang heroik cukup untuk melukiskan karakter masyarakat China yang memiliki nasionalisme tinggi terhadap bangsanya sendiri.

Pada semester kedua tahun 2019,  ruang pamer utama lantai 1 NMC menggelar pameran bertema nasionalisme guna menyambut 70 tahun berdirinya Republik Rakyat China yang jatuh pada 1 Oktober 2019. Ruang pamer ini memamerkan bendera nasional China dengan ukuran yang besar, stempel-stempel kenegaraan, film dokumenter, poster-poster propanganda serta barang-barang bertema nasionalisme China.Â

Keris Sukarno dan Patung Bali SBY

Pada bulan September 2019, bagian ruang pamer temporer NMC sedang memamerkan kaligrafi China dan perkembangannya hingga saat ini, pameran patung-patung kuno dari benua Afrika, pameran cinderamata koleksi negara pemberian dari negara lain, pameran seni seni rupa karya pegrafis China, pameran naskah kuna China yang ditulis dalam bilah-bilah bambu, dan pameran kontemporer bertema Van Gogh.

Salah satu pameran temporer yang cukup menarik adalah mengenai pameran cinderamata koleksi pemerintah China pemberian dari negara lain. Berbagai cindermata tersebut biasanya diberikan oleh kepala negara dari berbagai negara di dunia ketika melakukan kunjungan kenegaraan ke China. Jumlahnya mencapai 611 koleksi dengan berbagai ukuran, bahan, bentuk, dan cirikhas dari negara yang memberikan mulai dari lukisan, patung, senjata, kain, bordir, mozaik, kristal, emas, keramik dan sebagainya yang dikumpulkan sejak tahun 1949.

Koleksi yang mengejutkan adalah adanya 2 koleksi cinderamata dari Indonesia. Yang pertama berupa keris yang diberikan oleh Presiden Sukarno kepada Kamerad Liu Shaoqi pada April 1963. Keris gaya Bali berwarna emas dengan aksen batu-batuan berwarna putih, ungu, dan hijau tersebut sangat indah dan masih terlihat cukup terawat meski telah dihadiahkan lebih dari 50 tahun lalu.

Koleksi yang kedua berupa patung kayu dari Bali sebagai cinderamata dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang diberikan kepada Kamerad Hu Jintao pada April 2005. Patung karakter manusia laki-laki dan perempuan dengan pakaian adat Bali tersebut berwarna coklat tua dengan tingkat craftmanship khas seniman Bali tersebut meski berukuran tidak begitu besar namun cukup prestisius dan sangat berkarakter Indonesia.

Secara keseluruhan konsep kuratorial, tata letak, dan bobot pameran yang diselenggarakan di NMC sudah sangat baik. Hanya saja dari sisi informasi seperti papan deskripsi dan pengantar kadangkala ‘tidak ramah’ bagi pengunjung warga negara asing yang tidak paham bahasa dan tulisan China.

Banyak deskripsi karya atau koleksi yang hanya ditulis dengan aksara China tanpa teks latin dengan Bahasa Inggris. Hal ini sangat menyulitkan pengunjung untuk memahami sebuah koleksi yang dipamerkan. Entah mengapa museum kelas dunia setingkat NMC tidak mengakomodair kebutuhan untuk pengunjung asing? Atau hal ini memang untuk menunjukkan nasionalisme mereka terhadap bahasa dan tulisan negerinya sendiri?

Sebagai bahan awal untuk belajar sejarah dan budaya China, kiranya National Museum of China cukup untuk memberi pengantar bagaimana negara ini bangkit dan berkembang menjadi salah satu negara dengan perkembangan ekonomi dan budaya yang sangat kuat di dunia saat ini, paling tidak kurun masa 70 tahun terakhir.

Sumber : https://travel.detik.com


Redaksi

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Image
Photo or GIF