Jangan Tanya ‘Seberapa Greget’ ke Orang Ini, Dia Jaga Listrik di Sarang Komodo Guys


76 shares
Ovaldi Seik, penanggung jawab PLTD di Desa Komodo (Nugroho/detikcom)
Ovaldi Seik, penanggung jawab PLTD di Desa Komodo (Nugroho/detikcom)

Kalimat ‘mampu bekerja dalam tekanan’ yang sering tercantum dalam syarat lamaran pekerjaan barangkali sudah tak relevan lagi bagi pria ini. Soalnya, pekerjaan yang dia lakoni sekarang sudah cukup bikin ciut nyali orang biasa.

Dia adalah anak muda usia 22 tahun. Tekanan di pekerjaannya bukan datang dari atasan atau jenis Homo sapiens lainnya, melainkan dari reptil komodo yang mengintai dari bebatuan. Istilah milenial jaman now, ‘seberapa gereget pekerjaan lo?’

“Komodo sering di pohon asem situ itu!” kata pemuda ini, namanya Ovaldi Seik, biasa dipanggil Valdi. Dia menunjuk pohon di pinggir pantai berbatu yang dekat dengan tebing, sekitar 100 meter dari tempatnya berdiri.

Baca :   Inovasi Mahasiswa ITS Ini Manfaatkan Bakteri untuk Hasilkan Listrik

Ovaldi Seik adalah penjaga listrik desa di Pulau Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Dia berposisi sebagai penanggung jawab Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Sub Unit Layanan Pelanggan (ULP) Komodo. Tempatnya bekerja dan tidur ada di instalasi PLTD yang terletak di sudut paling pojok desa, mebet dengan tebing tempat nongkrong komodo. Butuh nyali yang besar sekadar untuk mencapai PLTD ini dan menemui Valdi.

Kami yang datang dari Jakarta harus berpikir dua kali untuk menyambangi PLTD pada Selasa (26/2/2019). Soalnya, medan yang dilewati adalah bebatuan persis di pinggir pantai, sepi pula. Kami semua tahu reptil purba itu bisa berenang dan mudah tersamarkan oleh bebatuan atau gelondongan kayu, dua benda yang banyak ditemui di sepanjang jalur menuju PLTD. Gigitan komodo juga punya reputasi buruk bisa membunuh manusia dan belum ada antivirusnya.

Ini adalah pulau habitat komodo, kehati-hatian perlu diterapkan. Valdi sendiri sadar bekerja di sini punya risiko lebih besar ketimbang di tempat lain. “Kita kerja di sini taruhannya nyawa,” kata Ovaldi, mengenakan helm kerja berwarna oranye.

Baca :   Komodo Dijual Rp 500 Juta Per Ekor, Pemprov NTT Salahkan Balai Nasional

Valdi sendiri bukan orang asli Desa Komodo melainkan putra Kupang, Ibu Kota Nusa Tenggara Timur. Tak ada kadal model seperti itu di kampung halamannya. Bukannya tidak takut, dia sebenarnya ngeri juga saat pertama kali ditempatkan di sini, Maret 2018.

“Kondisi di sini kan banyak komodo, kerja harus lebih hati-hati, selain hati-hati dalam pekerjaan juga perlu hati-hati dalam keseharian,” kata Valdi.

Kini dia paham, komodo akan menggigit manusia bila dia merasa terancam. Maka sebisa mungkin dia mengamati kondisi sekeliling, di balik rerumputan, di antara tong-tong logam, atau di sela dinding instalasi. Jangan sampai dia tidak sengaja menginjak atau menabrak komodo hingga komodo kaget, karena bila itu terjadi maka rahang komodo bisa mampir ke kaki, tangan, perut, atau bagian lainnya.

Baca :   Rusa di Pulau Komodo Dibantai dan Dibawa ke NTB

“Saya sering bertemu komodo. Kalau kami sedang jalan, kami selalu memperhatikan kondisi. Komodo-pun sebenarnya takut juga kalau kaget,” kata Valdi.

Kini dia sudah lebih berani. Dia akan lebih waspada bila membawa daging mentah saat berjalan dari perkampungan menuju PLTD. Bila ada komodo yang menghalangi jalan, dia akan usir dengan kata, “Hus!” atau lemparan batu alakadarnya. Ada pula komodo besar yang sulit diusir, seperti saat Sang Naga bersilaturahmi ke PLTD, ketika Ovaldi dan kawan-kawannya bersih-bersih persiapan Hari Listrik Nasional 27 Oktober 2018. Dia menunjukkan video rekaman peristiwa itu.

Komodo kekar sepanjang 4 meter masuk saat pagar dalam keadaan tidak ditutup. Teman-teman Ovaldi yang sedang asyik mengecat lupa bahwa gerbang harus selalu ditutup. Komodo itu terlihat melenggang dengan ekor melengkung. “Kalau ekor melengkung itu berarti dia siap menyabet. Kita harus berdiri di sisi yang aman. Karena kalau kita tersabet ekor, kita jatuh, kita bisa digigitnya,” kata Valdi.

Akhirnya, komodo berhasil diusir berkat bantuan rekan-rekan Ovaldi yang asli Desa Komodo. Terlepas dari peristiwa ngeri itu, saya jadi teringat penuturan tokoh masyarakat Desa Komodo bernama Haji Amin Bakar. Suku Komodo punya kepercayaan, kehadiran komodo di dalam rumah seseorang bisa sekaligus menjadi pertanda buruk atau pertanda baik. Orang yang dirundung masalah atau penyakit dipercaya akan mendapat keberuntungan atau kesembuhan bila komodo masuk ke rumahnya. Namun bisa pula komodo menjadi pertanda buruk, tergantung kondisi si tuan rumah saat si reptil berkunjung.

“Gara-gara kehadiran komodo itu barangkali ya, kita mendapat penghargaan juara ke-5 Unit Layanan Isolated PLN 2018,” ucap Valdi.

PLTD ini berdiri tahun 2017. Dia mengabdi di tempat ini sejak 2018 bersama tiga orang operator yang asli Desa Komodo. Bila malam tiba, tiga orang rekannya akan pulang ke rumah masing-masing. Namun Ovaldi tidur di PLTD, tepatnya di kamar yang terbuat dari kontainer, sekitar 30 meter dari instalasi utama PLTD.

PLTD ini menggunakan bahan bakar minyak (BBM) yang selalu diantar dari Reo Pulau Flores sampai dermaga di depan. Bila kapal pengantar BBM sudah datang, maka muatan 5 ton solar akan dialirkan ke tanki-tanki instalasi. Dalam sebulan, 6 ton solar akan tandas. “Sekarang masih sisa 7 ton, masih bisa sekitar 29 hari untuk desa ini,” ujarnya.

Listrik menyala selama 12 jam, dari jam 18.00 WITa sampai jam 06.00 WITa, meski persiapan menghidupkan mesin akan lebih awal ketimbang 18.00 WITa. Suara berisik meraung-raung dari mesin PLTD saat Ovaldi menghidupkanya. Listrik 220 Volt akan mengalir ke pelanggan. Dia selalu rutin berjalan menyusuri perkampungan, mengecek komponen-komponen listrik.

“Di sini kita melayani tanpa pamrih. Kalau pamrih berarti nggak melayani,” ujarnya sambil sibuk memeriksa mesin-mesin.

Sumber : www.detik.com


Redaksi

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Image
Photo or GIF