Ganja Selalu Ada di Aceh, Bupati Himbau Tanam Yang Halal


263 shares
Ladang Ganja di Aceh (Foto : Istimewa)
Ladang Ganja di Aceh (Foto : Istimewa)

Bupati Aceh Besar, Mawardi Ali mengajak warganya yang selama ini menanam ganja, beralih ke tanaman pertanian produktif lainnya. “Mari beralih ke tanaman pertanian lain, yang hasilnya halal, sehingga bisa diberi untuk nafkah anak istri,” katanya.

Mawardi ikut serta saat aparat keamanan melakukan pemusnahan 10 hektare ladang ganja di pegunungan Gampong Cot Sibatee, Kecamatan Montasik, Kabupaten Aceh Besar, Kamis (15/3) kemarin.

Warga yang masih menanam ganja, kata Mawardi, merupakan orang-orang yang ingin cepat kaya. Karena menurutnya, selama ini Pemerintah Aceh Besar telah melakukan beragam upaya untuk alih fungsi ladang ganja.

Baca :   Mahasiswa Aceh Pembuat Video Penarikan Cadar Dikeluarkan dari Kampus

Mawardi mencontohkan seperti di kawasan Lamteuba, Kecamatan Seulimeum, Aceh Besar. Dulu kawasan itu salah satu produsen ganja, tetapi sekarang warga sudah beralih ke tanaman pertanian yang produktif. Kendati demikian, pihaknya segera menerapkan program alih fungsi lahan di Kecamatan Montasik, mencontoh Kecamatan Lamteuba.

“Pemerintah daerah siap untuk mencari solusi lain agar warga mau meninggalkan tanaman seperti ini (ganja). Ini sudah pernah kita lakukan di Lamteuba, kita gantikan dengan tanaman alternatif,” katanya.

Upaya mengajak warga melupakan bertani ganja telah lama menjadi program Pemerintah Aceh dan Badan Narkotika Nasional (BNN). Teranyar adalah upaya BNN menginisiasi sebuah Grand Desain Alternative Development (GDAD). GDAD disebut sebagai upaya melakukan alih fungsi lahan di Aceh yang kerap digunakan untuk menanam ganja, menjadi agrowisata.

Peresmian program tersebut dilakukan mantan Kepala BNN, Komjem Pol Budi Waseso, di Kabupaten Gayo Lues, Senin (26/2/2018) lalu, ditandai penanaman perdana aneka pohon di bekas ladang ganja. “Melalui alternative development diharapkan produksi ganja di Aceh akan menurun yang tentunya diiringi dengan turunnya peredaran gelap ganja di Indonesia,” kata Budi Waseso saat itu.

Baca :   Aceh Berencana Legalkan Poligami

Menurutnya, program pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan memberikan bantuan bibit dan pembiayaan penanaman tanaman alternatif bagi masyarakat. Untuk kawasan Gayo Lues, diberikan bibit kopi, karena kontur wilayah Gayo sangat memungkinkan untuk pengembangan perkebunan kopi.

Budi Waseso menyadari, selama ini para petani adalah korban. Mereka diperdaya pemilik modal, yang begitu ada permasalahan hukum, petanilah yang menerima sebab. “Kita harus memikirkan bagaimana petani diberdayakan untuk menanam tanaman unggulan pengganti ganja. Program ini juga membantu pemerintah dalam rangka swasembada pangan,” katanya.

Harapannya. program itu bisa terus berlanjut sehingga ketergantungan masyarakat akan ganja bisa hilang dan mereka nantinya bisa diarahkan menjadi petani kopi.

Catatan Acehkini, BNN juga terlibat melakukan eradikasi lahan ganja di Aceh Besar dengan tanaman nilam, kunyit dan kopi. Program ini berlangsung Fabruari 2013 lalu. Deputi Pemberdayaan Masyarakat BNN, Irjen (Pol) V. Sambudiyono (saat itu) mengatakan sebanyak 100 petani yang dulunya gemar menanam ganja di perbukitan Aceh Besar, dibina secara terpadu. Ada tiga kecamatan yang difasilitasi; Lamteuba, Kuta Malaka dan Montasik. “Diberdayakan sekitar 30 hektar lahan yang dulunya lahan ganja,” ujarnya saat itu.

Menurutnya dengan program tersebut, wilayah yang dulunya sebagai produsen ganja akan beralih menjadi produsen tanaman yang tidak dilarang hukum. “BNN akan terus membantu sampai adanya kemandirian masyarakat di sana,” kata Sambudiyono.

Jauh sebelumnya, setelah konflik Aceh berakhir, 15 Agustus 2005, berbagai lembaga donor internasional ikut membantu Pemerintah Aceh dalam program memberdayakan masyarakat untuk tidak menanam ganja. []

Reporter: Adi W | Habil Razali


Redaksi

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Image
Photo or GIF