Soal Larangan Non Muslim Disebut Kafir, Ini Pendapat Ustadz Abdul Somad dan Ustadz Adi Hidayat


112 shares
Ustadz Abdul Somad dan Ustaz Adi Hidayat (Foto : Tribunnews.com)

Dai Ustadz Abdul Somad (UAS) ikut mengomentari larangan menyebut non muslim sebagai kafir.

Menurut UAS istilh kafir sebenarnya sudah ada sejak dari dulu.

“Kalimat dari dulu, jangan panggil kafir, panggil non Muslim, bagaimana nanti baca ayat,” katanya.

 

Ustadz Abdul Somad menyatakan, orang yang memperjuangkan kebenaran melawan batil.

“Ada ucapan orang kafir marah, kalimat dari dulu,” katanya.

Menurut Ustadz Abdul Somad, orang yang menonjol dalam keberanian memperjuangkan kebenaran karena ada bengkok ada lurus.

“Ada batil ada haq, ada Musa ada Firaun.”

Sementara itu, Ustadz Abdul Somad juga menjelaskan bahwa kafir sudah sejak dulu ada di Al Quran.

“Apa surahnya nanti jadi Non Muslim dan bunyinya kulya ayuhal non Muslim?” kata dia.

Sebagaimana disampaikan Ustadz Abdul Somad, yang belum lama ini mendapatkan gelar Syekh Abdul Somad, pernyataan tentang kafir ada di antaranya dalam surah Al Kafiruun.

Surah itu menjelaskan toleransi dengan kalimat yang sangat lugas dan indah, bagimu agamamu, bagiku agamaku, lakum dinukum waliyadin.

Ustadz Abdul Somad mengatakan, orang kafir sudah ada sejak dulu, bukan baru ada, sekarang.

Hal senada juga disampaikan Ustadz Adi Hidayat menyatakan, orang-orang kafir adalah orang yang menutup diri.

Awalnya terjadi perdebatan di antara orang Islam dan non Islam, hingga turunnya surah Al Kafiruun itu.

“Makanya, turut Ayat Al Quran. Agak aneh orang sekarang, tidak paham kafir disebut kafir marah-marah, Masya Allah,” katanya.

Saat kemudian ayat itu turun, kata Ustadz Adi Hidayat, mereka yang disebut kafir tidak marah.

“Kafir itu artinya orang-orang yang menutup diri, Abu Jahal, Abu Lahab, dan abu-abu yang lain tidak marah,” katanya.

Sejumlah reaksi memang bermunculan setelah sejumlah orang di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sepakat mengganti kata kafir dengan sebutan non Muslim.

Baca :   Ustaz Abdul Somad: Saya Tidak Takut Karena Saya Tidak Merasa Salah

Akibatnya, reaksi bermunculan terkait kampanye semua agama itu sama, yang selama ini, di antaranya disampaikan kalangan Jaringan Islam Liberal (JIL).

Sebelum ini, aktor dan dalang ternama, Sujiwo Tejo malah berperan dalam sebuah film fenomenal dengan judul Kafir.

Tokoh Agama Malah Bangga Disebut Kafir

Kalangan non Muslim dinilai justru harus menolak kalau diri mereka disebut sebagai tidak kafir.

Misalnya, seperti testimoni yang disampaikan oleh seorang pemuka agama Hindu, Mpu Jaya Prema, yang menjelaskan, justru kalau disebut bukan kafir artinya masuk Islam.

Tokoh Hindu, Mpu Jaya Prema mengatakan, sebutan kafir diberikan kepada orang-orang yang bukan beragama Islam, bukan suatu masalah.

Justru harusnya memang demikian karena di luar Islam.

Maknanya, kata Mpu Jaya Prema, memang orang-orang yang berada di luar agama Islam.

“Kalau kita disebut kafir harus bangga karena kita ada di luar Islam,” katanya.

Istilah itu ada di dalam Islam, tidak ada urusan dengan konstitusi dan kenegaraan.

“Artinya, kita punya keyakinan, kita ini orang yang di luar Islam, kalau disebut kafir karena kita di luar Islam, kita punya keyakinan,” katanya.

Tokoh Hindu Mpu Jaya Prema mengatakan sebutan ‘KAFIR’ kepada orang-orang yang bukan beragama Islam bukanlah suatu masalah, justru harusnya bangga,

“Apa perlu kita marah atau berang kalau kita dituduh kafir? Saya kira tidak ada gunanya. Karena istilah KAFIR itu adalah terminologi didalam agama Islam bukan didalam konstitusi kita, tidak ada urusan dengan kenegaraan, tidak ada urusan dengan keberagaman kita.”

“Kafir itu istilah didalam Islam yang artinya orang-orang diluar Islam. Jadi kalau kita disebut Kafir justru kita harus bangga karena kita memang berada diluar Islam, kenapa kita harus marah? Tidak ada yang harus kita curigai, tidak ada yang harus kita persalahkan…”

Baca :   Innalillah, Ibunda Ustaz Abdul Somad Tutup Usia

“Apa perlu kita marah atau berang kalau kita dituduh kafir? Saya kira, tidak ada gunanya.”

“Karena, istilah kafir itu adalah terminologi di dalam agama Islam bukan di dalam konstitusi kita, tidak ada urusan dengan kenegaraan, tidak ada urusan dengan keberagaman kita,” kata Mpu Jaya Prema.

“Kafir itu istilah di dalam Islam, yang artinya orang-orang di luar Islam.”

Jadi, kata Mpu Jaya Prema, kalau kita disebut Kafir justru harus bangga karena mereka memang berada di luar Islam.

 

“Jadi, mengapa kita harus marah? Tidak ada yang harus kita curigai, tidak ada yang harus kita persalahkan,” katanya.

Sementara itu, Habib Rizieq Syihab juga memberikan penjelasan tentang polemik yang terjadi itu dan menilai terminologi seperti kafir ada di banyak agama lain.

Bahkan ada yang menyebut dengan istilah hewan tertentu untuk yang mempunyai keyakinan dan agama yang berbeda.

“Umat Islam tidak ikut campur, tidak ada yang marah, kok kafir disoal, itu terminologi Islam,” katanya. (WARTAKOTA)

Artikel ini telah tayang di bangkapos.com dengan judul Ini Pendapat Ustadz Abdul Somad dan Ustadz Adi Hidayat Soal Larangan Non Muslim Disebut Kafir, http://bangka.tribunnews.com/2019/03/04/ini-pendapat-ustadz-abdul-somad-dan-ustadz-adi-hidayat-soal-larangan-non-muslim-disebut-kafir?page=all.

Editor: Iwan Satriawan


Redaksi

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Image
Photo or GIF