Warning…Pulau Lombok Berstatus Siaga Rabies


63 shares

Virus rabies yang awalnya ditemukan di Kabupaten Dompu kini menyasar Kabupaten Sumbawa. Ini menjadi warning bagi pemerintah daerah.

Sejak awal tahun 2019, Pemerintah Provinsi NTB berupaya menutup rapat potensi berkembangnya virus lewat gigitan anjing ini.” Informasi pagi ini, Sumbawa sudah positif ada ditemukan rabies,” ungkap Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Provinsi NTB Hj. Budi Septiani, Rabu (6/2).

Mencuatnya kasus rabies yang berawal di Dompu. Ini mengejutkan. Pasalnya, Provinsi NTB selama ini dikenal sebagai daerah bebas rabies. “ 2017 NTB berstatus bebas rabies. Kita lengah, lupa antisipasi. Sehingga begini sekarang,” katanya.

Apa yang terjadi di Dompu membuat masyarakat NTB tersadar tentang pentingnya kewaspadaan akan penyakit menular yang disebabkan oleh hewan (zoonosis). Rabies sendiri bukanlah penyakit baru di Indonesia. Hal yang harus dipahami masyarakat, bukan anjing saja hewan yang dapat menularkan rabies. Sumber infeksi hewan penular rabies (HPR) juga termasuk kucing, kera, kelelawar, rakun dan musang. “ Sampai hari ini, ada 2.217 ekor anjing yang divaksin dari populasi 9 ribuan. Anjing liar lebih banyak, itu yang kita waspadai. Karena bisa berjalan kemana-mana,” katanya.

Berbagai upaya telah dilakukan. Diantaranya mengirim surat kewaspadaan kepada seluruh kepala Dinas Peternakan di kabupaten/kota se- NTB, menggelar rapat koordinasi, mengeluarkan Surat Keputusan (SK) tanggal 25 Januari 2019 tentang larangan pemasukan dan pengeluaran hewan penular rabies di Pulau Sumbawa dan lain-lain. Untuk meminimalisir kembali kasus rabies, juga telah dilaksanakan sosialisasi di seluruh kecamatan di Kabupaten Dompu. “ Kalau Dompu itu ada 8 kecamatan, sebanyak 7 kecamatan sudah terkena rabies,” ungkap Budi Septiani.

Dalam waktu dekat, Budi juga akan melakukan koordinasi dengan Persatuan Menembak Indonesia (Perbakin) baik di tingkat pusat maupun provinsi untuk membantu melakukan pengendalian populasi HPR. Data yang dimiliki Disnakkeswan, jumlah korban yang telah diberikan VAR sebanyak 465 orang dan 6 orang diantaranya diberikan Serum Anti Rabies (SAR). Jumlah HPR yang telah berikan vaksin rabies sebanyak 1.655 ekor. Untuk kondisi di Pulau Lombok, saat ini statusnya siaga. Peningkatan status tersebut guna memperketat pengawasan lalu lintas, baik itu barang maupun hewan dari dan menuju Pulau Lombok. “ Pulau Lombok sampai saat ini, belum ada yang positif rabies,” tegasnya.

Baca :   Wow....Hujan Es Kembali Turun di Lombok

Beberapa kasus gigitan memang telah terjadi di Pulau Lombok. Misalnya kasus di Kabupaten Lombok Timur pada tanggal 22 Januari 2019. Dari hasil pemeriksaan, dinyatakan negatif. Begitupun dengan kasus kematian anjing di daerah Kuta Lombok Tengah pada tanggal 30 Januari 2019. Kemudian kasus di Kota Mataram, semuanya negatif. “ Walaupun saat ini tidak ada rabies di Lombok, tapi kita harus tetap waspada,” imbaunya.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi mengatakan, jumlah kasus gigitan anjing dari bulan Agustus 2018 hingga saat ini sebanyak 527 kasus. “ Sudah ada 5 orang meninggal dunia di Dompu karena rabies,” ungkapnya.

Apabila ada yang digigit anjing, lanjutnya, Eka menyarankan agar segera dicuci bekasnya. Hal itu harus dilakukan minimal 15 menit dengan menggunakan sabun batangan dengan air mengalir. Setelah itu, barulah dilakukan perawatan luka dan suntikan vaksin. Dengan begitu akan membunuh virus rabies hingga 80 persen. Jangka waktu dari infeksi oleh virus hingga munculnya gejala-gejala pertama, rata-rata dari 35 ke 65 hari. Gejala-gejala pertama dapat berupa gejala umum seperti demam, sakit kepala, dan merasa letih. Kemudian bisa kehilangan nafsu makan, mual, rasa sakit atau mati rasa di area yang digigit dapat berlangsung selama 3-4 hari pertama.

Sistem saraf juga terganggu. Orang yang digigit menjadi gelisah dengan hiperaktivitas yang ekstrem. Korban akan mengalami kejang otot semu dan kelumpuhan juga mungkin terjadi. Ketakutan akan air tiba-tiba muncul di tahap ini. Apabila rabies tidak diobati segera setelah terekspos, hampir selalu akan berujung ke koma, kejang, dan kematian.(zwr)

Sumber : https://radarlombok.co.id/


Redaksi

0 Comments

Your email address will not be published.

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Image
Photo or GIF