Jelang Pilpres, Ini Upaya Whatsapp Cegah Berita Hoax di Indonesia


WhatsApp terus berupaya menemukan cara mencegah penyalahgunaan aplikasinya. Salah satu contoh penyalahgunaan aplikasi yang kini jadi perhatian utama mereka adalah penyebaran informasi palsu atau hoaks oleh pengguna tak bertanggung jawab.

Di India, berita palsu yang disebar melalui WhatsApp telah menimbulkan kekacauan. Perusahaan milik Facebook ini tidak ingin masalah tersebut berlanjut ke negara lain, termasuk Indonesia yang bakal melaksanakan pesta demokrasi pemilihan umum legislatif dan presiden pada 17 April 2019 mendatang.

WhatsApp mengerti bahwa kabar hoaks yang tersebar di platform-nya merupakan masalah serius yang harus segera ditangani. Untuk itu pencegahannya tidak bisa hanya dilakukan dalam satu tindakan.

Beberapa upaya telah mereka terapkan untuk mencegah informasi palsu tersebar dan menjadi viral di platform-nya. Berikut lima upaya yang sudah dilakukan WhatsApp dalam mengatasi misinformasi.

Pasang Tanda atau Label untuk Pesan Terusan

Sejak Juli 2018, WhatsApp telah memberikan tanda atau label ‘forwarded‘ pada pesan terusan. Label itu muncul di atas sebuah pesan yang telah diteruskan sebelumnya untuk pengguna.

Hal ini untuk membantu pengguna mengetahui bahwa pesan yang diterima itu tidak dibuat oleh lawan bicaranya.

“Kami mendorong Anda untuk berpikir sebelum membagikan pesan yang diteruskan. Sebagai pengingat, Anda dapat melaporkan spam atau memblokir kontak dalam satu ketukan dan selalu dapat menjangkau WhatsApp langsung untuk meminta bantuan,” tulis WhatsApp di blog resminya.

Langkah selanjutnya untuk mencegah berita hoaks viral di WhatsApp adalah membatasi pesan terusan. WhatsApp telah membatasi pengguna melakukan pesan terusan sebanyak lima kali, yang sebelumnya bisa dilakukan hingga 20 kali.

Hal ini dilakukan WhatsApp mengingat banyaknya pengguna yang ‘asal’ meneruskan pesan-pesan yang diterima walau kebenarannya masih simpang siur.

Fitur pembatasan jumlah pesan forward ini pertama kali diterapkan di India pada Juli 2018, dan diimplementasikan ke seluruh dunia, termasuk Indonesia, pada 22 Januari 2019.

“WhatsApp sekali lagi mengerti fitur forward sangat bermanfaat. Namun setelah melakukan penurunan angka batasan (pesan forward), ada juga penurunan perilaku forward pesan sebanyak 20 persen. Untuk itu dengan bangga kami umumkan fitur forward untuk Indonesia dan dunia diseragamkan (batasannya) jadi 5 pesan,” ujar Victoria, dalam acara diskusi di Jakarta, Senin (21/1).

Fitur Bungkam Pesan Anggota Grup untuk Admin WhatsApp

Admin grup di WhatsApp tidak hanya berfungsi untuk menambah dan mengeluarkan anggota dari kelompoknya. Mereka juga punya fungsi untuk membungkam pesan dari anggota.

WhatsApp telah meluncurkan pengaturan baru yang memungkinkan admin untuk menentukan siapa yang bisa mengirim pesan di dalam grup. Hal ini akan membantu mengurangi penyebaran pesan yang tak diinginkan, termasuk berita palsu.

Blokir Akun Spam

Pengguna tentu tak ingin akunnya dibombardir dengan banyak pesan tidak jelas dan mencurigakan alias spam. Olh karena itu, WhatsApp punya teknologi pendeteksi akun penyebar spam.

Mereka akan mendeteksi akun spam yang menunjukkan aktivitas abnormal agar tak lagi menyebar spam atau misinformasi. Di Brazil, teknologi ini diklaim telah berhasil menjaring dan blokir 400 ribu akun WhatsApp yang terdeteksi melakukan spamming.

Kerja Sama dengan Pemerintah dan Komunitas

WhatsApp percaya bahwa cara terbaik untuk menghentikan berita hoaks di platform-nya adalah bekerja sama dengan pemerintah dan masyarakat.

Fitur batas pesan forward merupakan salah satu hasil kerja sama perusahaan dengan negara yang menjadi prioritas mereka, seperti India, Meksiko, Brazil, dan Indonesia. Sementara bentuk kemitraan dengan organisasi non-pemerintah adalah menggelar kampanye literasi digital dan memberi edukasi terkait berita palsu kepada warga.

WhatsApp juga beri penghargaan berupa dana penelitian hingga 50.000 dolar AS untuk para ilmuwan yang bersedia meneliti isu informasi palsu. Ada sekitar puluhan peneliti yang berhak atas penghargaan Misinformation and Social Science Research, beberapa berasal dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Padjadjaran, dan Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina.

WhatsApp juga menjajaki kerja sama dengan beberapa organisasi, sepeti ICT Watch, untuk membangun hotline pengececkan fakta. Apabila fitur hotline ini telah hadir, nantinya saat ada berita palsu akan diarahkan ke organisasi berita, bukan ke WhatsApp.

Sumber Berita dan Foto : Kumparan.com


Redaksi

0 Comments

Your email address will not be published.

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Image
Photo or GIF